Wednesday, February 27, 2013

Menulis Untuk Keabadian


"Menulis adalah bekerja untuk keabadian."

Pram, dengan mulut Minke dalam "Rumah Kaca" bagaimana sebuah tulisan menjadi sangat berharga bagi seseorang. Versi lengkap dari kalimat Minke di atas adalah


“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”

atau bagaimana Pram menuliskan tentang pentingnya menulis dalam kisah "Anak Semua Bangsa" kali ini dari mulut Ontosoroh. Suatu kalimat yang penuh dengan alegori yang manis.


“Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari. (Mama, 84)”

dua contoh tulisan Pram di atas menunjukkan secara langsung bagaimana hasrat seorang penulis terhadap karyanya. Bagaimana suatu kegiatan menulis menjadi penting dalam kehidupan manusia. Pada ungkapan yang keluar daru mulut Minke, Pram menuliskan dengan keras tentang menulis, bagaimana menuis adalah suatu sarana untuk menjadi abadi, supaya kita tidak hilang dari masyarakat dari sejarah. Sedangkan melalui mulut Ontosoroh, Pram menuliskan pesan yang hampir sama namun dengan suasana yang berbeda. Pada kalimat yang diucapkan Ontosoroh terasa suasana yang seperti percakapan pada kehidupan sehari-hari, namun bukan hanya sebuah ungkapan perasaan pribadi yang intim dengan menggunakan alegori seperti angin, suara, dan masa depan (keabadian).

Setiap harinya semua orang menulis, ribuan orang dalam ratusan bahasa menulis, mungkin hanya sebuah catatan harian yang tidak ingin dipublikasikan. Albert Camus dalam esainya yang berjudul “Summer in Algiers” tentang hasrat lazim seorang penulis yaitu ingin tulisannya dibaca oleh masyarakat luas. Menurut Camus jika ada penulis yang tidak ingin tulisannya dibaca maka marilah kita mengaguminya tapi tidak perlu mempercayainya.

Dunia tulis menulis secara tidak langsung akan membawa kita kepada suatu komunitas yang baru, atau menurut Jose Luis Borges “lingkaran besar pertemanan yang tak ternilai harganya”. Borges juga berkata bahwa tulisan yang hidup dan bersemayam dalam ingatan banyak orang akan menjadikan penulisnya menetap dalam suatu pusat lingkaran besar pertemanan yang tak sepenuhnya bisa dikenali dan dimengerti oleh si penulis itu sendiri. Dan, bagi Borges, itulah pahala yang tak ternilai harganya.

Menulis adalah suata cara untuk bicara, suatu cara untuk berkata, atau mungkin salah satu cara untuk menyapa orang-orang lain yang mungkin entah di mana. Belajar menulis adalah belajar untuk mengamati, belajar menangkap momen-momen yang terjadi dalam kehidupan manusia dan mengabadikannya dalam suat bentuk karya. Melalui menulis pula saya belajar untuk menjadi lebih bijak, tanpa harus berdiri berteriak-teriak kepanasan di depan gedung dewan.

Sebagai akhir dari tulisan ini saya ingin mengutip satu kata dari Wiji Thukul :

“Jika aku menulis dilarang, aku akan menulis dengan tetes darah!” 
― Wiji Thukul, Aku Ingin Jadi Peluru

No comments:

Post a Comment