Monday, December 9, 2013

Sebelum Hujan Datang dan Senja yang Menua

Kita sama-sama menunggu, mungkin kita sama-sama tahu tapi menunggu, atau apapun istilahnya. Terkadang aku juga tak tahu bagaimana aku bisa mendeskripsikan kita. Memang hidup tidak akan pernah sebrengsek ini jika semua keinginan kita tercapai, tapi aku mungkin juga tidak meinginkan itu.

Sore itu, kita sedang berencana, ah mungkin bukan kita, tapi aku. Seperti katamu, aku adalah seorang perencana, the man with the plan.  Meskipun kamu selalu memperingatkanku kalau semuanya lebih indah mengalir, ya mungkin inilah aku. Sejujurnya aku juga tak tahu kita akan ke mana sore itu, kita sedang berada pada dimensi waktu, ketika matahari lebih senang bersembunyi dan bulir-bulir bisa turun kapan saja ke muka bumi. Kamu bilang kamu ingin pergi ke tempat yang sepi, tapi indah, aku tak tahu di mana aku bisa menemukannya, karena pada dirimu aku bisa menemukan semuanya.

"Bagaimana jika hujan menghalangi datangmu?" katamu bertanya.

"Aku tak tahu, terkadang aku suka hujan tapi aku tidak mungkin membiarkan hujan menyakitimu, membuatmu kedinginan dan basah kuyup." kataku.

Ketika hujan datang lebih cepat daripada aku, ah hal ini menyebalkan. Menunggu hujan reda selalu membuatku menjadi sentimentil, tentang bulir-bulir air di jendela atau bau tanah yang hadir dengan kenangan bersamanya. dan yang menjadi lebih menyebalkan adalah ketika aku harus menunggu hujan reda tanpamu dan ketika kehadiranmu bersama hujan tentu akan membuat segalanya menjadi lebih mudah.

Di saat seperti ini, aku selalu bermain dengan prasangka, ketika aku membayangkan apa yang nanti kita bicarakan. Aku membayangkan diriku sedang berada pada sebuah ruang tunggu dan menyaksikan orang-orang berjalan ke luar, mereka tidak meraih apa yang mereka tunggu, mereka menyerah. Mungkin mereka menyerah ketika kamu mengucapkan kata maaf, ah maaf memang terkadang meyimpan maknanya yang tidak bisa diiyakan maupun ditidakkan. Aku sadar, aku juga hampir termakan bujuk rayu mereka, untuk meninggalkan apa yang aku tunggu tapi aku menyadari kalau apa yang aku tunggu lebih membuatku tidak betah jika aku tinggalkan.

Ah seperti katamu, mungkin terkadang aku harus mengalir mengikuti kemauan semesta. Terlambat, hujan datang dan menghanyutkan rencana entah ke mana. Kadang aku berharap aku bisa lebih cepat dari hujan, agar sore itu kita bisa mengungkapkan segalanya yang belum terungkapkan. Semesta memang selalu punya caranya sendiri, mungkin agar kita lebih menghargai waktu-waktu bersama, waktu yang paling berharga adalah masa kini, kamu juga paling berharga karena masih bersamaku hingga kini. Dan masa depan itu tidak pasti, tapi aku ingin memastikan kamu sebagai masa depanku, hanya itu.

Terkadang, aku hanya berharap aku datang sebelum hujan datang. Terlambat, aku hanya bertemu senja yang menua. Tak apa, karena aku tak akan pernah lelah mengucapkan tiga kata itu, dan tak henti mendoakanmu berharap kamu memang masa depanku.


*terinspirasi oleh foto M. Hibatur R, mungkin kita harus sering membuat karya bersama.

No comments:

Post a Comment