Stasiun Tugu, ramai seperti biasanya sore itu. Ada yang pernah bilang bahwa di tengah-tengah keramaian, sebagian orang bisa menemukan kesunyian paling sunyi di dalam dirinya, ya dan aku sadari mungkin aku sebagian di antaranya. Jadi di sinilah aku, duduk di salah satu bangku stasiun yang legendaris ini. Kadang kala ada saat-saat di mana pikiran kita berkelana, ketika hawa dan suasana membawa pikiran kita terbang entah ke mana, di antara hujan di pinggir danau Toba, atau alunan lullaby di sebuah desa di sudut pulau Jawa. Di antara radio swaragama dan lagu-lagu sendu dari Kla. Atau membawa kita ke bau koleksi buku penuh debu, dan setumpuk perkataan ibu. Tapi sore itu aku hanya merasakan kesunyian.
Mungkin hal ini juga yang dia rasakan, Amir Syarifuddin, mantan perdana menteri itu menghabiskan waktu-waktu terakhir hidupnya di sini, iya di bangku stasiun ini sebelum dia dibawa ke depan salakan senapan di Ngaliyan. Amir duduk di bangku stasiun ini, di stasiun yang telah dikosongkan di depan ratusan rakyat Yogyakarta yang ingin melihat perdana menteri pengganti Syahrir itu untuk terakhir kalinya. Ia membaca sebuah buku yang dipinjamnya dari seorang letnan yang mengawalnya saat itu, Romeo Juliet. Aku tak tahu mengapa menghadapi kematian bisa setenang itu. Akhirnya 19 Desember 1948, Amir bertemu kekasihnya yang meski selama ini selalu dekat dengannya namun hari itu mereka baru dipertemukan, kematian.
Soekarno-Hatta yang saat itu mendengar tentang eksekusi Amir, sangat kaget, dan langsung memanggil Gatot Soebroto yang menjadi panglima wilayah Solo. Tragis karena mereka pernah menyelamatkan Amir dari eksekusi Jepang, dan ironis karena eksekusi Amir justru terjadi pada pemerintahan mereka.
Atau cerita lain tentang dr. Wiroreno, salah satu orang yang terlibat juga dalam PKI 1948. Seperti yang dituliskan oleh Soe Hok Gie, ia menghadapi eksekusi di alun-alun Pati. dr. Wiroreno saat itu dengan khidmat menghadapi algojo yang akan segera mengakhiri hidupnya, malah algojonya yang gentar hingga harus bersimpuh dan memohon maaf kepada dokter yang hendak dijagalnya itu karena dokter yang terkenal baik itu pernah menyelamatkan nyawa kerabatnya. Kenapa menghadapi kematian bisa setegar itu.
Lalu ada cerita tentang eksekusi pemuda-pemuda yang juga tersangkut kasus Madiun affair 1948. Berdasar kesaksian Roeslan Abdoelgani, sesaat sebelum peluru mengakhiri waktu mereka, mereka minta waktu sejenak, untuk bernyanyi. Mereka menyanyikan lagu "Indonesia Raya" dengan khidmat, lalu dilanjutkan dengan menyanyikan "Internationale". Dan sesaat sebelum pelatuk ditarik, mereka meneriakkan satu kata kepada eksekutornya, "Pengkhianat!"
Soe Hok Gie, dalam skripsinya (yang kemudian menjadi Orang-Orang Kiri di Persimpangan Jalan" mengatakan bahwa kematian petinggi PKI dan korban-korban Madiun Affair adalah “akibat dari perlombaan mobil menuju puncak gunung. karena jalan makin sempit, pastilah roda-roda yg berlomba menuju puncak itu akhirnya saling bersenggolan, bergesekan dan memercikkan api.”
Jenderal TB Simatoepang dalam "Laporan dari Banaran" karyanya menuliskan, “Saya yakin bahwa do’a yang terakhir dari anak-anak itu semua adalah untuk kebahagian dan kebesaran tanah air yang satu juga.”
Setelah itu, yang ada hanya kematian.
No comments:
Post a Comment