Kepada Q
Sore itu seperti biasanya aku menuju salah satu tempatku menikmati senja di fakultas ini. Aku selalu menyukai senja, meskipun dengan artian yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Dulu, aku menyukai senja seperti seorang anak sekolah menanti bel istirahat atau bel terakhir sebelum libur panjang tiba.
Sore itu, ada yang berbagi kebahagiaan. Tentang kedatangan dan kehilangan, tentang tahun yang terlewati dan angka baru usia yang akan dijalani. Aku belum terlalu mengenal sosokmu, namun mari kita sedikit berbicara tentang angin.
Angin, sesuatu yang tidak kasat mata namun dia ada. Dia bisa pergi ke mana saja sesukanya, tanpa ada yang mengikat, tanpa beban ataupun ketakutan. Dia yang selalu ada ketika daun membutuhkannya, dia mendengarkan ketika daun-daun itu membisikkan rahasia-rahasia mereka. Angin membantu daun-daun itu jatuh dengan nyaman ke tanah, ketika pohon tidak meminta mereka untuk tinggal, atau ketika ada hal-hal lain yang membuat mereka terjatuh. Tapi terkadang angin lupa, bahwa tidak semua daun terletak pada pohon yang sama, dan membuat daun tersebut terlepas dari tangkainya. Mungkin dia hanya berniat bermain, tapi terkadang ekspresi itu menjadi salah dan disalahartikan.
Ah, mengapa aku malah meracau soal angin. Seperti yang aku sampaikan pada paragraf sebelumnya, aku tidak terlalu mengenalmu, tidak pernah terlibat obrolan panjang, ataupun bertukar umpatan denganmu. Namun sejauh yang aku perhatikan, kamu adalah sebaik-baiknya kawan. Seseorang yang mampu mendengar, mendengar, dan mendengar sembari sesekali mengeluarkan kata-kata yang menenangkan. Seseorang yang meskipun jarang terdiam, namun diamnya menenangkan ketika sedang mendengarkan.
Ada sedikit pesan, seperti layaknya deskripsi tentang angin. Selalu dengarkan celotehan daun, ada lah selalu untuk mereka. Kita tak bisa hidup tanpa orang lain, hargai teman-teman yang ada untuk dirimu. Dan terkadang setiap orang itu berbeda, seperti angin yang melewati daun-daun pohon yang berbeda, setiap tindakan kecil memiliki arti, hati-hati dengan setiap tindakan karena terkadang itu menjadi bahan pikiran mereka, bahkan menyakiti hati mereka. Karena setiap orang berbeda-beda.
Selamat menempuh umur baru, selamat ulang tahun, dan selayaknya senja, hari ulang tahun adalah kehilangan yang terduga, namun kita tidak bisa berbuat apa-apa. Pertemuan dan perpisahan yang terjadi bersamaan, pertemuan dengan usia baru dan perpisahan dengan waktu-waktu sebelumnya. Menyenangkan mengingat hari ulang tahunmu juga merupakan hari pertemuan dan perpisahan dengan tahun, yang selalu dirayakan orang-orang, merayakan kehilangan. Senja bersahabat karib dengan kehilangan, tapi jadikan kehilangan menjadi pelajaran, karena kita tidak hidup pada satu momen, tapi jadilah lebih baik dan jadikan momen-momen selanjutnya lebih baik.
Bersama tulisan ini juga terkirim sepaket doa ke langit, mungkin jika aku mempunyai mesin waktu aku akan mengirimkannya tepat pada hari ulang tahunmu tapi apa daya aku tidak memiliki itu. Selamat ulang tahun ke 18, lewat 18 hari.
*PS : postingnya telat sehari, dan seharusnya aku menganalogikan bukan dengan angin, namun cahaya, sesuai namamu
No comments:
Post a Comment