Ketika lapisan es di Antartika tercatat mencapai titik terendah dalam sejarah. Dua negara besar memutuskan untuk mengurangi bahkan menghilangkan satu-satunya sumber energi yang sudah terbukti menghasilkan jumlah limbah karbon terendah. Jepang melalui perdana menterinya sudah menyatakan bahwa mereka akan mengurangi penggunaan energi nuklir hingga bisa bebas nuklir pada tahun 2030. Begitu juga dengan Perancis yang memutuskan untuk mengurangi penggunaan energi nuklir, yang telah memberi mereka predikat sebagai salah satu negara dengan listrik terbersih di dunia.
Sangat jelas, tanpa nuklir kita sudah kalah dalam melawan pemanasan global. Kita telah menyaksikan tanda-tanda awal runtuhnya biosfer. Dengan lapisan es di Antartika telah mengalami pencairan penuh dan sistem cuaca di belahan bumi utara mengalami kekacauan. Dengan nuklir, ada kemungkinan tingkat pemanasan global abad ini bisa dibatasi pada 2C, tanpa nuklir saya kira kita bisa mencapai 4C bahkan lebih. Hal ini akan menghancurkan ekosistem dan kehidupan masyarakat di dunia dalam skala yang tak terbayangkan.
Karena trauma yang diperoleh dari bencana alam gempa bumi dan tsunami di reaktor Fukushima Daiichi, dapat dipahami bahwa sebagian besar politisi mempertanyakan tetang nuklir. Namun, kita harus membuka mata bahwa tidak ada orang yang mati dalam kecelakaan Fukushima dan juga tidak ada peningkatan jumlah orang yang terkena kanker di sekitar reaktor.
Tapi, sebagai respon dari penghentian reaktor di Jepang. Jepang menggandakan jumlah impor migas mereka. Dan emisi karbon dioksida melonjak lebih dari 60 juta ton.
Jepang secara tidak langsung menyalahi kesepakatan target perubahan yang mereka buat sebagai bagian dari UN Climate Negotiations tahun lalu. Jepang merencanakan akan mengurangi emisi CO2 mereka hingga 25% sampai tahun 2020. Salah satu kebijakannya adalah untuk meningkatkan jumlah energi dari nuklir hingga dapat menfasilitasi setengah dari kebutuhan listrik Jepang yang akan mengurangi jumlah emisi karbon, dan meningkatkan sumber dari energi terbarukan hingga 20% pada tahun 2030. Untuk mencapai target tersebut tanpa nuklir itu mustahil. Sumber energi tenaga surya dan angin jika digabung hanya mampu menyuplai sekitar 1% dari jumlah kebutuhan listrik Jepang dalam sehari, dan untuk memenuhi kebutuhan listrik dengan dua sumber energi tadi adalah hal yang sulit.
Sangat sulit membayangkan bahwa politisi di seluruh dunia, di bawah tekanan orang-orang yang mengaku pecinta lingkungan untuk berusaha tidak menggunakan sumber energi yang saat ini paling aman dan paling bersih untuk digunakan dengan alasan perubahan iklim.
Masih banyak yang bisa diperbaiki. Masih panjang jalan untuk mencapai tahun 2030. Dan setelah Jepang mellihat bahwa banyak industri Jepang yang tutup atau direlokasi ke lepas pantai karena mahalnya biaya pasokan listrik dan energi, mereka mungkin akan berpikir ulang. Atau setelah Perancis melihat kebanggan Jerman atas energi suryanya larut dalam asap bahan bakar fosil. Namun kebijakan publik kembali kepada masyarakat. Dan selama masyarakat masih salah persepsi terhadap resiko nuklir dan terus mengabaikan dampak serius dari perubahan iklim. Maka planet ini sedang dalam masalah serius.
Meanwhile In Indonesia
Dan bagaimana perkembangan iptek nuklir di Indonesia? Sebagai seorang mahasiswa yang berkuliah di prodi teknik nuklir UGM, sedikit banyak saya mengetahui bagaimana perkembangan kondisi nuklir di Indonesia. Apa kita masih kekurangan SDM di bidang IPTEK Nuklir? Saya rasa tidak. Menurut salah satu dosen saya, Ibu Faridah, pada salah satu kuliahnya mengatakan bahwa yang menjadi masalah adalah pada segi budaya, yaitu bagaimana budaya safety masyarakat Indonesia yang masih tergolong rendah.
Tapi apabila ditinjau dari segi kebutuhan, sudahkah Indonesia membutuhkan PLTN dan teknologi nuklir sebagai salah satu energi terbarukan? Jawabannya adalah sudah, dengan kebutuhan energi khususnya listrik di Indonesia meningkat kurang lebih 7% per tahun dan menurut data kementrian ESDM kebutuhan listrik di Indonesia dipasok oleh PLTU yaitu sebesar 43,99%.
Dengan persen penggunaan PLTU sebesar 43,99% ditambah dengan kebutuhan listrik Indonesia yang sangat besar tidak bisa dipungkiri bahwa asap hitam yang bersumber dari Indonesia secara tidak langsung turut berperan dalam masalah pemanasan global dan juga perubahan iklim yang terjadi di dunia. Dengan adanya PLTN maka ketergantungan Indonesia terhadap PLTU dapat berkurang secara signifikan dan juga akan berpengaruh positif kepada lingkungan karena PLTN tidak menghasilkan emisi berupa gas-gas rumah kaca seperti pembangkit listrik tenaga uap.
Di Indonesia sendiri saat ini teknologi nuklir sudah digunakan dalam kehidupan ketika seperti misalnya dalam sektor kesehatan yaitu dengan penggunaan radioisotop dalam proses pengobatan di rumah sakit. Di sektor pangan teknologi nuklir digunakan untuk iradiasi pangan yaitu suatu proses pencegahan terjadinya pembusukan pangan dan membunuh bakteri renik patogen yang ada di dalam makanan. Iradiasi pangan merupakan proses yang aman dan telah disetujui oleh kurang lebih 50 negara di dunia dan telah diterapkan secara komersial selama puluhan tahun di USA, Jepang dan beberapa negara Eropa. Dalam segi ekonomi, BUMN Indonesia BatanTek sudah menjadi salah satu Produsen radioisotop di wilayah Asia dan mulai merambah dunia dan mulai berpeluang menguasai bisnis bidang nuklir pada skala global.
Lalu, apa yang bisa kita lakukan untuk mendukung perkembangan nuklir di Indonesia sebagai generasi muda? Mungkin saya akan mulai dari hal yang paling sederhana. Yang bisa kita lakukan sekarang adalah terus menambah informasi tentang teknologi nuklir, tentang kebutuhan bangsa ini dan solusi untuk mengatasinya. And when you already now, you can spread the “love” about how nuclear can solve our problem, with energy issue, environment issue, and more that you wouldn’t have ever imagined. Now another How? You can join www.nuclearyouthsummit2013.comto contribute more and together thinking to solve our problem and nuclear issue, untuk Indonesia, generasi muda, dan masa depan negara kita tercinta.. Indonesia..
Penulis adalah mahasiswa semester 2 program studi Teknik Nuklir Universitas Gadjah Mada


waiki!!!
ReplyDeletepostingan ringan yang bisa ngebuka pikiran kita tentang Nuklir, bagus bagus....
makasih buat pencerahanya
bagus banget buat orang awam kayak saya :D
keep spreading the “love” about how nuclear can solve our problem, yeahh!!!
Thank you..
ReplyDeletebukan apa-apa banyak yang salah paham bahwa nuklir berdampak buruk pada lingkungan padahal sesungguhnya apabila tidak menggunakan teknologi nuklir mungkin dunia sudah tertutup oleh asap hitam PLTU
bagus bagus ini bagus. seharusnya nuklir itu memang harus diterapkan sebagai sumber energi primer. karena menurut saya memang itu yang paling tepat dalam menghadapi sumber energi fosil yang akan habis dan menghadapi perubahan iklim akibat emisi CO2.
ReplyDeletebenar sekali. emisi CO2 dari PLTU yang menggunakan bahan bakar fosil sangat berbahaya bagi perubahan iklim dan pemanasan global.
DeleteSee you in Jogjaa :D
ReplyDelete