Alkisah di persimpangan itu, ya di persimpangan yang hampir kau lewati setiap hari, ada sebuah lampu kuning. Lampu kuning itu memendam perasaan kepada seorang wanita, wanita yang hampir setiap hari melewatinya. Sebenarnya lampu kuning tidak pernah memendam perasaannya. Dia selalu menyampaikannya, setidaknya ia mencoba untuk setidaknya berkata "hati-hati". Sudah terlalu banyak hati yang coba disampaikannya dan terlalu banyak yang mengabaikannya.
Lampu kuning sadar, Ia harus berterima kasih pada lampu merah. Lampu merah selalu mampu menahan wanita itu sejenak. Hingga selalu ada waktu bagi lampu kuning untuk melihat senyuman di mata kecilnya, mendengar dia bercerita tentang mimpinya kepada orang yang saat itu bersamanya, atau saat dia mengeluh karena tertahan terlalu lama saat ada yang harus dia kejar di luar sana.
Lampu kuning selalu cemburu kepada lampu hijau. Wanita itu selalu menantikan lampu hijau ketika terhenti di persimpangan itu. Lampu kuning juga kesal, karena lampu hijau selalu mampu membuat wanita itu pergi. Hingga lampu kuning harus menanti 24 jam lagi untuk menyaksikannya di sini.
Lampu kuning selalu terabaikan, tak terdengar. Dia yang dengan baik hati selalu mengucapkan hati-hati, mungkin hanya bisa menyimpan cintanya di dalam hati, tak terucapkan. dan selayaknya mengapa dia berada di sana menyampaikan hati-hati, apalagi masalah hati.
(Terinspirasi saat terjebak kemacetan di persimpangan Mirota)
No comments:
Post a Comment